technoz.id - Transformasi digital membuat perangkat Internet of Things (IoT) dan perangkat mobile semakin melekat pada kehidupan sehari-hari, baik di rumah, bisnis, maupun sektor publik. Namun, semakin terhubungnya perangkat ini juga meningkatkan risiko ancaman siber. Para penyerang kini tidak hanya menargetkan komputer atau server, tetapi juga CCTV, smart home assistant, wearable device, hingga aplikasi mobile banking.
![]() |
| Perlindungan IoT dan Perangkat Mobile dari Serangan Siber: Studi Kasus, Strategi, dan Solusi Praktis |
Artikel ini akan mengupas secara mendalam tentang perlindungan IoT dan perangkat mobile dari serangan siber dengan menyoroti tantangan nyata di Indonesia, studi kasus terbaru, strategi pencegahan, hingga panduan praktis yang bisa diterapkan baik oleh individu maupun perusahaan.
Lanskap Ancaman IoT dan Mobile di Indonesia
Indonesia
menjadi salah satu negara dengan penetrasi perangkat mobile dan IoT yang
tinggi. Menurut laporan BSSN tahun 2024, tercatat lebih dari 1,6 juta percobaan
serangan siber terhadap perangkat IoT hanya dalam tiga bulan pertama. Banyak di
antaranya melibatkan botnet Mirai varian baru yang menargetkan perangkat
CCTV dan router rumahan.
Selain itu, laporan dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga mencatat bahwa 74% pengguna internet di Indonesia mengakses layanan finansial melalui perangkat mobile, menjadikan smartphone sebagai target utama phishing, malware, dan ransomware.
Studi Kasus: Botnet CCTV di Jakarta dan Bandung
Pada
2024, ratusan perangkat CCTV rumahan di Jakarta dan Bandung diretas menggunakan
varian Mirai. Setelah terinfeksi, perangkat tersebut digunakan untuk melancarkan
serangan DDoS ke layanan e-commerce lokal. Peristiwa ini membuktikan bahwa
perangkat IoT yang tampaknya sederhana bisa menjadi pintu masuk bagi serangan
berskala besar.
Tidak hanya itu, salah satu perusahaan fintech besar di Indonesia melaporkan adanya kasus di mana akun mobile banking nasabah diretas setelah perangkat IoT rumah tangga (smart speaker) yang terhubung ke Wi-Fi yang sama disusupi.
Faktor Utama yang Membuat IoT dan Mobile Rentan
- Kurangnya Update Firmware – Banyak perangkat IoT di
Indonesia tidak diperbarui secara rutin karena produsen berhenti
mendukungnya atau pengguna tidak tahu cara update.
- Penggunaan Default Password – Sebagian besar perangkat
masih menggunakan kata sandi pabrikan yang mudah ditebak.
- Keterhubungan Jaringan – IoT sering terhubung ke
jaringan Wi-Fi yang sama dengan perangkat mobile, sehingga jika satu
perangkat terinfeksi, ancaman bisa menyebar.
- Kurangnya Edukasi Pengguna – Pengguna lebih fokus pada fitur praktis perangkat ketimbang aspek keamanan.
Strategi Perlindungan IoT dan Mobile yang Efektif
Untuk
memperkuat perlindungan IoT dan perangkat mobile dari serangan siber,
berikut langkah-langkah yang dapat diterapkan:
1. Segmentasi Jaringan
Pisahkan
jaringan Wi-Fi untuk perangkat IoT dengan jaringan utama yang digunakan oleh
laptop dan smartphone. Dengan begitu, jika perangkat IoT diretas, dampaknya
tidak langsung menjangkiti perangkat mobile.
2. Update Firmware dan Aplikasi
Pastikan
perangkat IoT dan aplikasi mobile selalu diperbarui ke versi terbaru.
Perusahaan penyedia keamanan menyebut update rutin bisa menutup 70% celah
eksploitasi.
3. Gunakan Autentikasi Ganda
Untuk
aplikasi mobile banking atau email, aktifkan two-factor authentication (2FA)
agar meski perangkat terinfeksi, akses ke akun lebih sulit ditembus.
4. Monitor Lalu Lintas Jaringan
Gunakan
router pintar atau aplikasi security monitoring untuk mendeteksi perilaku
mencurigakan dari perangkat IoT.
5. Edukasi Karyawan dan Keluarga
Penting bagi perusahaan maupun keluarga di rumah untuk memahami dasar keamanan, seperti tidak mengunduh aplikasi dari sumber tidak resmi, tidak menggunakan password yang sama, dan mengenali tanda-tanda perangkat terinfeksi.
Insight Lokal: Apa Kata Pakar Indonesia?
Seorang
IT Security Manager dari perusahaan fintech di Jakarta menyebutkan:
“Salah
satu kesalahan terbesar pengguna adalah menyambungkan semua perangkat ke satu
jaringan. Begitu ada satu perangkat IoT yang rentan, perangkat mobile pun bisa
ikut terkena imbasnya.”
Pakar lain menambahkan bahwa meningkatnya penggunaan aplikasi dompet digital di Indonesia memperluas peluang serangan ransomware yang bisa masuk melalui file berbahaya di perangkat mobile.
Tren Global vs Lokal dalam Perlindungan IoT dan
Mobile
Di level global, banyak perusahaan menerapkan Zero Trust Architecture untuk mengamankan perangkat IoT dan mobile. Namun di Indonesia, adopsinya masih terbatas pada sektor keuangan dan telekomunikasi. Sebagian besar UKM dan pengguna individu belum menganggap serius isu ini, padahal dampaknya bisa mengganggu layanan online hingga menimbulkan kerugian finansial.
Rekomendasi Praktis untuk Individu dan Perusahaan
- Individu:
- Gunakan password manager.
- Aktifkan VPN saat
menggunakan jaringan publik.
- Periksa izin aplikasi
mobile sebelum instalasi.
- Perusahaan:
- Terapkan kebijakan BYOD
(Bring Your Own Device) yang ketat.
- Gunakan Mobile Device Management
(MDM).
- Lakukan audit keamanan IoT
secara berkala.
Langkah-langkah ini bisa membantu memperkuat perlindungan IoT dan perangkat mobile dari serangan siber agar tidak hanya sebatas teori, tapi bisa diterapkan langsung di dunia nyata.
FAQ tentang Perlindungan IoT dan Mobile
1. Apa
risiko terbesar perangkat IoT di Indonesia?
Risiko terbesar adalah eksploitasi botnet yang bisa mengendalikan ribuan
perangkat sekaligus untuk menyerang layanan online.
2. Apakah
perangkat mobile lebih aman dibanding laptop?
Tidak selalu. Mobile justru lebih rentan karena selalu terhubung ke internet
dan sering digunakan untuk transaksi finansial.
3.
Bagaimana cara mendeteksi jika perangkat IoT sudah diretas?
Tanda-tanda umumnya meliputi perangkat yang tiba-tiba lemot, boros bandwidth,
atau muncul trafik aneh pada jaringan.
4. Apa
langkah pertama yang harus dilakukan jika perangkat diretas?
Segera lepaskan perangkat dari jaringan, reset ke pengaturan pabrik, dan
lakukan update firmware.
5. Apakah
VPN bisa melindungi IoT dan mobile?
VPN membantu melindungi data dari penyadapan, tetapi tidak cukup jika perangkat
sudah memiliki celah keamanan.
Penutup (tanpa subjudul kesimpulan)
Melihat tren dan kasus nyata di Indonesia, perlindungan IoT dan perangkat mobile dari serangan siber harus menjadi prioritas utama, baik untuk individu maupun perusahaan. Ancaman semakin kompleks, tetapi dengan strategi tepat—mulai dari segmentasi jaringan hingga edukasi pengguna—kita bisa mengurangi risiko yang ada.
